Cinta dan Pernikahan dalam Islam
February 13, 2012
sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=323684941040314&set=a.124806450928165.25715.124803064261837&type=1&ref=nf
February 13, 2012
Dulu ketika kelas X SMA, ketika Virus Merah Jambu sedang menjangkiti angkatan dan menghasilkan ‘pasangan-pasangan’ baru, Rohis bergerak dan mempropagandakan gerakan anti-pacaran. Berbagai argumen diangkat saat itu: tidak adanya status pacaran dalam Islam, pacaran menjerumuskan pada perzinaan, dalam Islam cinta dengan lawan jenis hanya boleh ada pada pasangan yang telah menikah, dll. Dengan didukung oleh sifat pribadi saya yang cenderung mandiri, argumen yang bisa saya terima dan pahami serta saya jadikan alasan bagi saya untuk tidak berpacaran hingga beberapa waktu yang lalu adalah: seperti apapun itu halusnya, pacaran akan mendekatkan dua orang pada perzinaan di antaranya.
Waku terus berlalu, saya mengalami beberapa kejadian yang mendewasakan: menghadiri pernikahan abang-abang mentor dan ADS, lulus kuliah dan mulai memasuki dunia kerja, terlibat aktif di pernikahan sepupu yang cukup dekat, menemani anak sepupu bermain di mal (dulunya saya bermain bersama orang tuanya), dan yang cukup signifikan adalah menghadiri pernikahan teman seangkatan SMA.
Dari beberapa kejadian tersebut, saya akhirnya mulai menyadari seperti apa makna cinta antar lawan jenis dan pernikahan dalam Islam. Saya mulai menyadari mengapa dalam Islam cinta antar lawan jenis harus dan hanya boleh diikat dalam pernikahan. Sebuah pemahaman yang akhirnya membuat istilah dan kegiatan ‘pacaran’ menjadi sangat-sangat tidak bermakna.
Cinta yang hanya ada dalam pernikahan membuat cinta tersebut terikat dengan sifat-sifat yang mulia, yang kemudian memuliakan cinta itu sendiri.
Cinta dan kesucian
Cinta yang hanya ada dalam pernikahan adalah cinta yang suci dan mahal. Ia bukan ‘cinta’ yang diobral murah seperti murahnya cinta monyet yang diobral oleh para ababil (ABG labil). Ia bukan cinta gonta-ganti yang dipertontonkan di sinetron-sinetron remaja. Ia adalah cinta yang insyaallah hanya dikeluarkan sekali oleh mereka yang saling mencinta, kecuali Allah berkehendak lain. Ia adalah cinta yang sebagian besar dikeluarkan setelah melalui perenungan panjang. Ia adalah cinta yang sebagian besar dikeluarkan setelah berkomunikasi intensif dengan Allah melalui solat Istikharah, doa-doa panjang di akhir sholat wajib dan di sepertiga malam terakhir, dll. Ia juga adalah cinta yang diharapkan dapat menjaga pemiliknya dari dosa dan tindak maksiat.
Cinta dan komitmen
Cinta yang hanya ada dalam pernikahan adalah cinta yang berpadu dengan komitmen. Dua orang beriman yang menikah berarti berkomitmen untuk saling mencintai, sebagaimana mereka berkomitmen untuk hidup bersama dan saling mengisi diantaranya. Sejatinya ketika dua orang yang beriman menikah, mereka akan mempertahankan cinta diantaranya sebagaimana mereka mempertahankan pernikahannya, dalam rangka menghindari perceraian yang dibenci Allah.
Cinta dan tanggung jawab
Cinta yang hanya ada dalam pernikahan adalah cinta yang berpadu dengan tanggung jawab. Dua orang beriman yang menikah merupakan pertanda bahwa mereka siap untuk menjalankan salah satu tugas anak Adam: menghasilkan keturunan yang soleh dan solehah yang kelak akan menjadi khalifah di muka bumi. Mereka siap untuk menjadi orang tua yang akan bertanggung jawab mendidik anak-anaknya. Mereka siap untuk membentuk keluarga yang akan menjadi tempat belajar pertama sang anak.
Cinta dan ibadah
Dan tentu saja, cinta yang hanya ada dalam pernikahan adalah cinta yang berpadu dengan keinginan untuk beribadah. Ia adalah cinta yang didasari pemahaman bahwa menikah adalah menyempurnakan separuh agama. Ia adalah cinta yang didasari pemahaman bahwa melayani suami dan memberi nafkah lahir batin pada istri adalah ibadah.
sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=323684941040314&set=a.124806450928165.25715.124803064261837&type=1&ref=nf




0 komentar:
Posting Komentar