Banner Maker

Sabtu, 11 Februari 2012

Senja di Tegalaren

Senja yang menjingga, mega yang menguning di Desa Tegalaren kecamatan Purwodadi. Takut melanda saat senja berganti malam. Semua menjadi gelap, tak satupun cahaya yang berpendar.
Begitupun dalam hidup ini, kita akan teramat takut dengan senja. Karena senja identik dengan kematian. Kematian yang menjadi kodrat semua insan yang hidup di dunia ini. Hidup di dunia ini hanya sementara, hidup di dunia hanya canda dan guyonan. Hidup yang sebenarnya ada di akherat kelak.
Bukankah kita akan mati dan semua makhluk yang hidup akan mengalami kematian. Kematian adalah pintu yang membawa kita berhijrah dari dunia satu ke dunia yang lain. Sebuah pintu dari suatu ruang ke ruang yang lain.

Teringat perkataan kakekku setahun yang lalu, “nang urip iki butuh mangan, raga kudu diwenehi pakanan gizi, utekmu kudu diwenehi pakanan ilmu, lan jiwamu kudu diwenehi pakanan iman”. Memang benar kita hidup bukan hanya untuk bercanda, tapi lebih dari itu. Kehidupan dunia hanya sebuah ladang, ladang yang harus dicangkul, dipupuk, disamai benih, agar dapat tumbuh tunas, perlahan menjadi tanaman dan berbuah. Agar dapat kita nikmati buahnya kita membutuhkan proses yang panjang, dan proses itu dinamakan kehidupan.
Thanks for my grandfather, beliau begitu banyak memberikan motivasi, inspirasi, dan petunjuk. Kakekku menjadi motivatorku setelah kepergian ayahku dua tahun yang lalu. Mereka yang membuatku mengerti akan hidup ini.
Jangan pernah menyesal karena mengenalku, jangan pernah menyesal karena terlalu mencintaiku. Aku hanya batu loncatan untukmu saat engkau ingin melompat lebih tinggi. Itu yang dapat aku tangkap dari mata ayahku sebelum Ia benar-benar pergi.
Dari mereka aku mengerti arti hidup ini, pesan mereka: jangan terlalu terlena dengan indahnya dunia. Saat kita terlalu terlena dengan dunia, semakin jauh kita dengan sang pencipta. 
We must fight from zero to hero.



0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More